6 Surat Penting yang Wajib Diperhatikan saat Beli Rumah
Rumah merupakan kebutuhan dasar sekaligus tempat berlindung dan beristirahat bersama keluarga. Namun, sebelum membeli rumah, ada sejumlah hal yang perlu Anda pertimbangkan agar terhindar dari risiko penipuan maupun masalah hukum di kemudian hari. Salah satunya adalah memeriksa legalitas dan kelengkapan surat penting beli rumah.
Lantas, dokumen apa saja yang perlu diperiksa sebelum membeli rumah? Simak pembahasan berikut untuk mengetahui surat-surat penting yang perlu Anda pahami sebelum melakukan transaksi properti!
1. Sertifikat Kepemilikan
Saat membeli rumah atau tanah kosong, salah satu dokumen yang perlu Anda periksa adalah sertifikat kepemilikan tanah. Dokumen ini memuat informasi mengenai status hak atas tanah dan pemegang haknya. Memastikan kejelasan sertifikat penting dilakukan agar Anda mengetahui status kepemilikan properti serta mendapatkan perlindungan hukum jika terjadi masalah di kemudian hari.
Di Indonesia, terdapat beberapa jenis hak atas tanah yang memiliki ketentuan dan fungsi berbeda. Berikut tiga jenis sertifikat tanah yang perlu Anda ketahui.
Baca Juga: Panduan Cara Balik Nama Sertifikat Rumah yang Aman
A. Sertifikat Hak Milik (SHM)
Sertifikat Hak Milik (SHM) merupakan salah satu jenis sertifikat tanah yang perlu Anda pahami sebelum membeli rumah. SHM memberikan hak kepemilikan penuh atas tanah kepada pemegang haknya dan hanya dapat dimiliki oleh warga negara Indonesia sesuai ketentuan yang berlaku.
Dibandingkan jenis hak atas tanah lainnya, SHM memberikan kedudukan kepemilikan yang kuat karena tidak memiliki batas waktu seperti Hak Guna Bangunan. Oleh sebab itu, saat membeli rumah, periksa apakah properti tersebut berstatus SHM atau menggunakan jenis hak atas tanah lainnya.
B. Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB)
Selain SHM, Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) juga menjadi salah satu surat penting beli rumah yang perlu Anda ketahui. SHGB memberikan hak kepada pemegangnya untuk mendirikan dan memiliki bangunan di atas tanah yang bukan berstatus Hak Milik atas namanya, sesuai ketentuan yang berlaku.
Berbeda dengan SHM, SHGB memiliki jangka waktu tertentu, bisa hingga 30 tahun. Hak ini dapat diperpanjang atau diperbarui sesuai persyaratan yang berlaku. Karena itu, jika rumah yang ingin Anda beli berstatus SHGB, periksa masa berlaku sertifikat serta ketentuan perpanjangannya sebelum melakukan transaksi.
C. Sertifikat Hak Pakai (SHP)
Sertifikat Hak Pakai (SHP) merupakan jenis sertifikat lain yang perlu Anda kenali saat memeriksa legalitas rumah. Hak Pakai memberikan hak untuk menggunakan dan/atau memungut hasil dari tanah yang dikuasai negara atau tanah milik pihak lain, sesuai ketentuan yang berlaku.
SHP memiliki ketentuan penggunaan dan jangka waktu yang dapat berbeda, bergantung pada status tanah serta dasar pemberian haknya. Jika rumah yang akan Anda beli menggunakan SHP, pastikan Anda memahami hak yang diberikan, masa berlakunya, dan ketentuan pengalihannya sebelum melanjutkan transaksi.
2. Sertifikat Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
Surat penting beli rumah berikutnya yang perlu Anda periksa adalah Izin Mendirikan Bangunan (IMB) atau dokumen Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) untuk perizinan yang menggunakan ketentuan terbaru. Dokumen ini berkaitan dengan legalitas pembangunan bangunan dan diterbitkan melalui instansi yang berwenang sesuai ketentuan yang berlaku.
Pastikan informasi dalam dokumen sesuai dengan kondisi bangunan di lapangan, termasuk data bangunan dan peruntukannya. Ketidaksesuaian antara dokumen dan kondisi sebenarnya dapat menimbulkan kendala administratif maupun masalah hukum di kemudian hari.
3. Akta Jual Beli (AJB)
Akta Jual Beli (AJB) merupakan dokumen penting dalam proses transaksi jual beli tanah atau rumah. Akta ini menjadi bukti bahwa transaksi jual beli telah dilakukan oleh penjual dan pembeli. Bahkan, akta ini memiliki dasar hukum, yaitu Peraturan Badan Pertanahan Nasional (Perkaban) Nomor 08 Tahun 2012.
AJB dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), bukan sekadar sebagai saksi transaksi, tetapi juga untuk mendukung proses peralihan hak atas tanah. Pembuatannya dilakukan setelah persyaratan dan kewajiban yang diperlukan dipenuhi oleh para pihak. Karena itu, pastikan proses jual beli rumah dilakukan melalui prosedur yang sah agar hak Anda sebagai pembeli terlindungi.
Baca Juga: Contoh Surat Perjanjian Jual Beli Rumah dan Komponennya
4. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Dokumen lain yang perlu diperiksa sebelum membeli rumah adalah bukti pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Dokumen ini membantu Anda memastikan status pembayaran pajak properti dan mengetahui apakah masih ada tunggakan dari periode sebelumnya.
Sebelum transaksi diselesaikan, mintalah bukti pembayaran PBB terbaru dan periksa apakah terdapat kewajiban pajak yang belum dilunasi. Langkah ini penting untuk menghindari potensi masalah administrasi atau perselisihan mengenai tanggungan pajak setelah rumah berpindah tangan. Besaran PBB ditentukan berdasarkan sejumlah faktor, termasuk Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), serta ketentuan pajak yang berlaku di daerah setempat.
5. Bukti Pembayaran Tagihan
Selain dokumen legalitas, pastikan tagihan utilitas rumah tidak memiliki tunggakan sebelum proses serah terima. Periksa bukti pembayaran listrik, air, internet, serta iuran lingkungan jika ada. Langkah ini membantu menghindari tagihan lama yang berpotensi menjadi tanggungan Anda setelah rumah dibeli.
6. Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU)
Selain beberapa jenis sertifikat yang telah dibahas sebelumnya, Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU) juga perlu Anda ketahui untuk memahami status dan peruntukan suatu bidang tanah.
SHGU merupakan bukti hak untuk mengusahakan tanah yang dikuasai langsung oleh negara bagi kegiatan usaha tertentu, seperti pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Hak ini diberikan untuk tanah dengan luas minimal 5 hektare, dengan jangka waktu paling lama 35 tahun dan dapat diperpanjang hingga 25 tahun sesuai ketentuan yang berlaku.
Berbeda dengan SHM atau SHGB yang lebih umum ditemukan dalam transaksi rumah tinggal, SHGU ditujukan untuk kegiatan usaha. Oleh karena itu, memahami jenis sertifikat ini dapat membantu Anda mengenali peruntukan tanah sebelum melakukan transaksi properti.
Langkah Aman Membeli Rumah Dimulai dari Dokumen yang Tepat
Membeli rumah bukan hanya soal harga dan lokasi. Anda juga perlu memastikan legalitas tanah, dokumen perizinan bangunan, AJB, bukti pembayaran PBB, serta tagihan utilitas agar tidak menghadapi kendala setelah transaksi selesai. Memeriksa dokumen-dokumen tersebut sejak awal membantu Anda mengambil keputusan dengan lebih yakin.
Sudah siap menemukan hunian untuk keluarga? Rumah dua lantai di Cluster Fidelia, Serpong Natura City, bisa menjadi pilihan untuk dipertimbangkan. Tersedia penawaran dengan booking fee Rp10 juta melalui paket all-in, termasuk gratis BPHTB, AJB, DP 10%, dan biaya akad sesuai ketentuan promo. Khusus unit ready, Anda juga dapat menikmati promo gratis PPN.
Untuk mengetahui detail penawaran dan ketersediaan unit, segera hubungi tim kami dan dapatkan informasi yang Anda perlukan sebelum menentukan pilihan rumah.


