Proses Jual Beli Rumah Melalui Notaris agar Transaksi Aman dan Legal
Notaris atau Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) memiliki peran penting dalam memastikan proses jual beli rumah berjalan sesuai dengan ketentuan hukum. Oleh karena itu, proses jual beli rumah melalui notaris dan PPAT perlu diperhatikan agar transaksi berlangsung aman, sah secara hukum, dan terhindar dari berbagai kendala di kemudian hari.
Melalui bantuan notaris dan PPAT sesuai kewenangannya, Anda dapat memastikan kelengkapan dan keabsahan dokumen penting, seperti sertifikat tanah dan Akta Jual Beli (AJB), serta memenuhi persyaratan administrasi yang diperlukan. Dengan begitu, risiko sengketa dan masalah hukum setelah transaksi dapat diminimalkan.
Proses Jual Beli Rumah Melalui Notaris
Meskipun sering dianggap sama, notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) memiliki tugas dan kewenangan yang berbeda. Notaris berwenang membuat berbagai akta autentik sesuai dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014, sedangkan PPAT memiliki kewenangan membuat akta autentik terkait perbuatan hukum tertentu atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun, termasuk Akta Jual Beli (AJB), sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2016.
Dalam praktiknya, seseorang dapat merangkap jabatan sebagai notaris dan PPAT. Oleh karena itu, keduanya dapat terlibat dalam proses transaksi rumah sesuai dengan kewenangan masing-masing. Lantas, apa saja tahapan proses jual beli rumah yang perlu Anda ketahui? Berikut penjelasan selengkapnya.
1. Pengecekan Dokumen
Langkah pertama dalam proses jual beli rumah melalui notaris adalah pengecekan dokumen. Notaris akan memverifikasi dokumen-dokumen penting, seperti sertifikat tanah, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), dan bukti pembayaran pajak properti. Pengecekan ini bertujuan untuk memastikan bahwa rumah yang akan Anda beli bebas dari sengketa.
2. Pemeriksaan Legalitas Properti
Selain dokumen, notaris juga akan memeriksa legalitas properti secara menyeluruh. Pemeriksaan ini mencakup pengecekan keaslian sertifikat tanah di Kantor Pertanahan, serta memastikan bahwa nama pemilik pada sertifikat sesuai dengan penjual. Pemeriksaan ini penting untuk menghindari kasus penipuan dalam transaksi properti.
3. Pembuatan dan Penandatanganan Akta Jual Beli (AJB)
Tahap berikutnya dalam proses jual beli rumah melalui notaris adalah menyusun Akta Jual Beli (AJB). AJB merupakan dokumen resmi yang menjadi dasar hukum peralihan hak milik dari penjual ke pembeli. Dalam tahapan ini, kedua belah pihak akan menandatangani AJB di hadapan notaris.
Baca Juga: Contoh Surat Perjanjian Jual Beli Rumah dan Komponennya
4. Pembayaran dan Penyerahan Properti
Setelah Akta Jual Beli ditandatangani, penjual dan pembeli melanjutkan proses pembayaran serta penyerahan properti sesuai dengan kesepakatan. Pembayaran dapat dilakukan secara tunai maupun melalui KPR (Kredit Pemilikan Rumah). Setelah seluruh kewajiban pembayaran terpenuhi, penjual menyerahkan kunci rumah kepada pembeli sebagai bagian dari proses serah terima properti.
5. Pendaftaran Peralihan Hak di BPN
Tahap terakhir dalam proses jual beli rumah melalui notaris adalah mendaftarkan peralihan hak kepemilikan di Badan Pertanahan Nasional (BPN). Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa nama pembeli tercatat sebagai pemilik baru pada sertifikat tanah.
Umumnya, keseluruhan proses pengecekan legalitas properti hingga pendaftaran peralihan memakan waktu sekitar 1 hingga 3 bulan. Namun, proses ini bisa lebih cepat atau lambat, tergantung pada kelengkapan dokumen.
Baca Juga: Panduan Lengkap Cara Balik Nama Sertifikat Rumah yang Aman
Biaya dalam Proses Jual Beli Rumah melalui Notaris

Biaya notaris biasanya menjadi tanggung jawab bersama antara pembeli dan penjual, sesuai dengan kesepakatan. Umumnya, biaya ini berkisar antara 1%-2,5% dari nilai transaksi properti. Selain biaya notaris, ada sejumlah biaya lain yang perlu Anda siapkan, di antaranya adalah sebagai berikut.
- Biaya Cek Sertifikat: Biaya untuk pengecekan sertifikat tanah di Kantor Pertanahan berkisar antara Rp100.000,00 hingga Rp300.000,00, tergantung pada wilayah dan kompleksitas dokumen.
- Pajak Penghasilan (PPh): PPh biasanya ditanggung oleh penjual dan berkisar 2,5% dari nilai transaksi atau Nilai Jual Objek Pajak (NJOP).
- Validasi Pajak: Proses validasi bertujuan untuk memastikan semua kewajiban pajak telah terpenuhi. Biaya ini bervariasi, tergantung pada kebijakan daerah. Namun, biasanya biaya validasi berkisar Rp200.000,00.
- Biaya AJB: Dalam proses jual beli rumah melalui notaris, biaya pembuatan AJB umumnya berkisar antara 0,5%–1% dari nilai transaksi properti.
- Biaya Balik Nama Sertifikat: Rata-rata biaya balik nama sertifikat biasanya adalah 2% dari transaksi.
- SKMHT dan APHT: Jika pembelian properti menggunakan skema KPR, maka ada biaya SKMHT (Surat Kuasa Membebankan Hak Tanggungan) dan APHT (Akta Pemberian Hak Tanggungan). Biaya SKMHT biasanya sekitar Rp250.000,00 dan APHT adalah Rp1.200.000,00.
Beli Rumah dengan Lebih Tenang Bersama River Valley
Memahami proses jual beli rumah melalui notaris dan PPAT membantu Anda memastikan dokumen, pembayaran, dan peralihan hak atas properti berjalan sesuai ketentuan. Dengan persiapan yang tepat, Anda dapat menjalani proses pembelian rumah dengan lebih tenang dan terencana.
Kini, saatnya menemukan hunian yang sesuai dengan kebutuhan Anda. River Valley dari Serpong Natura City menghadirkan tipe Rumah Taman dengan konsep rumah semi-detached dan luas tanah 90 m², dengan harga mulai dari Rp1 miliaran.
Ada pula promo menarik berupa gratis BPHTB, AJB, DP 10%, biaya akad, serta PPN untuk unit ready stock. Anda bisa mulai memesan hunian ini dengan booking fee Rp20 juta.
Tertarik untuk mengetahui lebih lanjut? Hubungi tim Serpong Natura City sekarang untuk mendapatkan informasi mengenai unit Rumah Taman di River Valley dan promo yang tersedia.


